Jumhur Ulama sepakat bahwa niat harus dibacakan setiap malam untuk jenis puasa yang wajib, sementara untuk jenis puasa sunnah maka boleh kapanpun diniatkan.
Berbeda dengan Malikiyah yang berpendapat bahwa boleh meniatkan puasa ramadhan untuk sebulan penuh mulai tanggal satu.
Adapun yang menjadi dalil jumhur ulama adalah hadist berikut:
من َل جيمع الصيام قبل الفجر، فال صيام له
“Barang siapa yang belum berniat (untuk puasa) sebelum terbitnya fajar maka tidak ada puasa baginya” (HR. Abu Daud)
Lebih lanjt dalam hadits lainnya Rasulullah saw bersabda:
من َل يبيت الصيام قبل طلوع الفجر فال صيام له
“Barang siapa yang belum berniat (untuk puasa) di malam hari sebelum terbitnya fajar maka tidak ada puasa baginya” (HR. Ad-Daru Quthni dan AlBaihaqi)
Kemudian imam An Nawawi dalam Al Majmu’nya mengatakan:
سواء رمضان وغْيه وهذا ال خالف فيه ٍ جتب النية كل يوم من رمضان صوم الشهر كله َل ٍ عندَن فلو نوى ِف أول ليلة تصح هذه النية لغْي اليوم اْلول
Wajib niat untuk tiap-tiap hari, baik Ramadhan atau lainnya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab kami. Bila seseorang berniat di awal malam Ramadhan untuk puasa sebulan penuh, niatnya tidak sah kecuali hanya untuk niat malam pertama saja.
Diperkuat juga oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni:
ولنا أنه صوم واجب فوجب أن ينوي كل يوم من ليلته، كالقضاء. وألن هذه األيام عبادات ال يفسد بعضها بفساد بعض ويتخللها ما ينافيها
Bagi kami itu adalah puasa wajib maka wajib berniat untuk tiap hari pada malamnya seperti puasa qadha’. Dan karena hari-hari ini merupakan ibadah yang tidak saling merusak satu dengan lainnya, dan diselingi hal-hal yang menghalanginya.
Sumber : NASTAR
(Nanya-Nanya Seputar Ramadhan
Oleh : Firman Arifandi, LL.B., LL.M






